Jacob Ereste : “Membuka Cakrawala Pandang dan Pikiran Bersama Laku Spiritual”

  • Bagikan

Bi1sa.com. Perlunya gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia, diantaranya menurut Eko Sriyanto Galgendu adalah untuk membuka cakrawala pandang segenap warga bangsa Indonesia untuk mengatasi gradasi moral, etika dan akhlak bangsa yang tak berdaya mengatasi ragam masalah serta tantangan hidup dan kehidupan yang semakin berat dan rumit, utamanya dalam upaya menata bangsa dan negara Indonesia untuk masa depan yang lebih baik meliputi segenap kesejahteraan untuk semua bidang kehidupan secara adil serta beradab, seperti cita-cita dari proklamasi yang diinginkan bangsa Indonesia untuk semua sektor kehidupan.

Karena itu pijakan dasar nilai-nilai spiritual yang digagas GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang digagas oleh Eko Sriyanto Galgendu sentiasa mengacu pada UUD 1945 dan Pancasila yang tak cuma menjadi falsafah bangsa, tapi juga ideologi negara Indonesia. Maka itu GMRI pun akan menelusuri arus kehidupan suku bangsa Indonesia yang memiliki potensi besar nilai-nilai keluhuran dalam akal budi yang terpelihara sejak berabad-abad silam di negeri ini.

Nilai-nilai lokal yang dakhsyat itu seperti dalam sikap hidup dalam adat bersendi syarak, dan syarak bersendi kitabullah. Ini artinya, segala perbuatan atau pekerjaan hendaknya selalu mengingat aturan adat dan tuntunan agama. Sehingga harus selalu dapat diupayakan tidak bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Dan kearifan lokal sebagai identitas atau kepribadian budaya suku bangsa Indonesia yang luar biasa banyaknya itu, adalah jati diri yang khas dari ribuan suku bangsa Indonesia yang selam ini terkesan luput dari perhatian untuk didayagunakan secara maksimal sebagai potensi bangsa Indonesia.

Kearifan lokal ini, seperti subak — sistem pertanian di Bali — sungguh tak cuma efisien fungsinya, tetapi juga indah bahkan lebih berkesan religius. Ide dan gagasan serta kemampuan dan hasrat memelihara sistem subak yang indah dan relius ini, tentu saja erat terkait pada laku dan penghayatan spiritual warga masyarakat setempat. Sebab apa yang dilakoni oleh pelakunya itu tak cuma sekedar bercocok tanam semata, tapi juga mengekspresikan tuntunan agama yang diyakinya.

Lokal genius kata para pakar, adalah ciri budaya yang dimiliki oleh masyarakat setempat yabg dihasilkan dari proses pengalaman masa lalu yang dilakukan secara terus menerus hingga menjadi tradisi. Kecuali itu, kearifan lokal dalam konteks tanah dan air, katanya dalam budaya lokal erat kaitannya dengan konservasi air dan tanah yang memiliki nilai-nilai yang dipraktekkan dalam upacara ritual adat masyarakat setempat. Yaitu ketaatan dalam penggunaan air secukupnya, atau mengolah lahan dengan cara menghindar dari kerusakan alam lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya eksploitasi lahan secara berlebihan — seperti tambang dan hutan di Indonesia misalnya — pantas dikutuk.

Di Jawa, ada yang disebut Pranoto Mongso. Yaitu kearifan lokal semacam upaya untuk tata aturan waktu musim oleh petani di desa. Pranoto Mongso ini dilakukan atas dasar naluri yang diwarisi dari para leluhur untuk dijadikan patokan saat mengolah lahan pertanian. Karena Pranoto Mongso akan memberi tuntunan atas dasar isyarat yang diperoleh dari alam. Sehingga pengunaan lahan pun bagi petani dapat terukur. Demikian cara kearifan lokal warga masyarakat tradisi di pelosok negeri kita, selalu menjaga serta memelihara keseimbangan alam dan lingkungan. Jadi perlakuan keadilan terhadap alam dan lingkungan pun bagi para pelakon dilakukan dalam spiritual yang ideal serupa itu adanya.

Pada intinya untuk membuka sekat cakrawala pandang untuk pemikiran, gagasan serta tindakan dalam keseimbangan, hanya mungkin terwujud melalui laku spiritual yang penuh dan utuh. Untuk kemudian memetik hasil tanpa beban kerusakan fisik maupun non-fisik, demi dan untuk keperluan serta kepentingan orang banyak.

Red.

  • Bagikan